Rabu, Januari 21, 2009

MILIK INDONESIA


Sebulan yang lalu aku dikejutkan oleh kekesalan sepupuku, "Tik, tau ngga, jepit rambut bunga jepun (kamboja) yang di Sukawati itu dijual di Singapura dan dibilang produk dari Hawai! Aku bilang jepit rambut itu dari Bali. Tapi ga da yang percaya. Dasar negara-negara tukang contek!" Tak elak kata-kata itu bikin aku panas. Batik, Reog Ponorogo, Perak Bali, dan mungkin jepit rambut bunga jepun itu menunggu diakui negara lain. Apa lagi yang mau dirampok dari negara yang hampir bangkrut ini?

Beberapa tahun terakhir Indonesia semakin banyak menghadapi masalah. Mulai dari bencana alam yang silih berganti, sampai kekacauan ekonomi yang semakin kusut saja. Dari luar Indonesia menghadapi masalah-masalah penyiksaan TKI. Satu masalah lagi yang datang dari luar negeri yakni pernyataan Negara lain yang mengakui kebudayaan Indonesia sebagai hak miliknya.

Tahun-tahun kemarin banyak kebudayaan Indonesia yang berusaha dipatenkan negara lain, sebut saja Batik, Reog Ponorogo, Lagu Rasa Sayange,dan 800 motif Perak Bali.

Sebulan yang lalu aku kembali dikejutkan oleh sepupu yang baru pulang dari Singapura. Sebelum datang dari negeri seberang, saudaraku ini adalah orang yang benar-benar kecewa pada Indonesia. Dia juga sangat bangga sempat keluar dari negara yang memuakkan ini dan berhasil menginjakkan kaki di negeri orang. Tapi kali ini dia bicara dengan serius, “Tik, sebenarnya Indonesia itu negeri yang kaya dan orang-orangnya kreatif.”

“Maksudnya?” tanyaku setengah heran. Kejeduk apa orang ini di Singapura, jangan-jangan dia sempat kecelakaan di situ makanya fungsi otaknya jadi tidak normal.

“Eh tahu ngga, jepit rambut bunga jepun (kamboja) yang di Sukawati itu dijual di Singapura dan dibilang produk dari Hawai! Aku bilang jepit rambut itu dari Bali. Tapi ga da yang percaya. Dasar negara-negara tukang contek!" tak elak, aku kesal dibuatnya.

Namun apa yang bisa aku balas, aku terdiam, cuma memperhatikan.

“Mereka itu ngga punya apa-apa. Air aja mesti beli. Beda sama orang-orang kita, bisa bikin macem-macem. Sampah laut aja bisa dijadiin barang seni. Indonesia itu kaya. Makanya banyak negara yang pengen mencuri apa-apa yang kita punya.” Katanya berpidato dan sangat ekspresif. Mirip pengamat budaya.

Aku masih tidak membalas. Jauh di lubuk hati sebenarnya aku bukan cuma kesal pada negara-negara yang berusaha merampok apa yang Indonesia punya. Aku lebih kecewa pada Indonesia sendiri. Hanya sedikit orang yang benar-benar peduli pada kekayaan budaya Indonesia. Bagian yang lebih banyak adalah orang-orang yang benar-benar tidak peduli, acuh tak acuh, bahkan cenderung merusak. Mereka bahkan sengaja mengotori , mencorat-coret dan berlaku tidak senonoh pada peninggalan sejarah Indonesia. Sisanya, golongan ketiga adalah orang-orang yang kurang peduli pada kekayaan Indonesia tapi baru berkoar-koar setelah ada yang merebutnya. Ironis.

Aku mungkin berada di golongan ketiga. Aku kurang care dengan yang namanya budaya dan tetek bengeknya. Tapi kekesalanku langsung memuncak begitu mendengar orang lain mengakui itu budaya bangsanya. Kalau terus-terusan bersikap begini, kita bakal selalu selangkah di belakang para pencuri ide. Apa ada yang merasa senasib?

Kalau ada, marilah kita sama-sama menebus dosa. Tapi kalau ada yang tidak merasa berdosa, bantulah kami menebus dosa. Budaya Indonesia milik kita bersama. Keunikan itu juga yang membuat negara lain kagum pada negara kita.

Jepit rambut itu salah satu yang aku harapkan tetap menjadi milik Indonesia. Dengan observasi singkat, aku menemukan salah satu pengrajinnya di daerah Kuta, Bali. Mungkin sebenarnya masih banyak pengrajin lain yang membuatnya, bisa kita lihat dari ragam bentuk, motif dan bahan yang digunakan.

Adakah yang mau menambahkan kerajinan lain milik Indonesia? Ayo bantu Indonesia!

15 komentar:

  1. emang tuh, saya juga sebel sama negara2 yg sok mengakui karya negara lain.

    dulu saya juga gak care sama budaya sendiri tapi...sejak kejadian 'Malaysia' itu, saya mulai ikutan care. Ternyata, begitu byk budaya kita yang ditiru dan diakui negara lain.

    BalasHapus
  2. Sama dunk!
    Memang kita ngga tahu seberapa berharganya yang kita punyai sebelum merasa kehilangan...

    BalasHapus
  3. dasar pembajak!

    http://firman.web.id

    BalasHapus
  4. mari satukan tekad hasilkan karya tuk indonesia, sehingga negara lain tercengang melihat indonesia maju, sobatku harapan itu selalu ada..^_^
    salam perubahan
    fee3 (http://oaseqalbu.blogspot.cm)

    BalasHapus
  5. Mari kita lindungi budaya kita sendiri, biar ga lagi diakui oleh negara lain.
    salam kenal bro... :)

    BalasHapus
  6. salam kenal buat semua. Ayo lindungi budaya Indonesia!!!

    thank's buat commentnya ya..
    itu artinya kalian juga peduli Indonesia.

    BalasHapus
  7. wah gk bener tuh... apa label made in indonesia kurang mnjual yak... wah singa singa [hayaahhh!!!]
    salam

    senoaji

    BalasHapus
  8. Wah....aku setuju tuch dengan anggapan kamu kalau, negara lain disebut dengan negara pembajak, walaupun kadang negara kita juga pernah ikut2-an negara lain, tentang film, kreativitas. Tahu gak tentang air mancur menari itu kan pertama kali di Indonesia, apakah itu murni karya Indonesia? kayaknya bukan dech, pasti itu dibantu dengan negara lain. ya to?

    BalasHapus
  9. wah, sabar bu...sampai kapan semua itu muncul? sampai kita semua sadar. Tapi ambil positifnya aja, karena mereka kita jadi sadar dan berpikir, sekarang tinggal di kitanya mau kemana, masih banyak hal yang kita kerjakan ni. semangat!!

    BalasHapus
  10. Untuk melindungi kekayaan bangsa kita, harus ada yang berani berbuat sesuatu. Siapapun, mari bersama-sama bersatu untuk berbuat susuatu itu, mungkin dengan sebuah kelompok kecil atau sebuah yayasan yang terorganisir dan terdiri dari seluruh elemen kebangsaan. Mungkin sudah ada ya? Kalau belum ada mungkin ada yang ingin memprakarsai, saya ikut!

    BalasHapus
  11. Hem... kalo saat ini banyak produk Indonesia yang dibajak oleh negara lain karena kurangnya perhatian dari pemiliknya sendiri ( Pemerintah Indonesia ). Sekarang masih dibajak produknya, ( dan pulaunya juga ) besok-besok pastilah akan dibajak "TENAGA AHLI-AHLI" Indonesia. Tentunya dengan iming-iming gaji yang tinggi.

    Saya katakan ini karena saya tahu betul dan pernah tinggal di Singapore 2 tahun. Dan setelah saya pelajari sejarah Singapore bahwa sebenarnya Singapore didirikan oleh orang Indonesia ( Jawa ) yang tempat tinggalnya diberi nama "SINGAPURAN" yang akhirnya menjadi nama Inggris "SINGAPORE".

    Sebagai bukti lebih lanjut, mana ada sich kata "SINGA" atau "SINGO" dari bahasa lain Inggris atau India atau Cina??? Silahkan renungkan sendiri...

    Salam...

    BalasHapus
  12. wah senang sekali bertemu dgn teman2 yg peduli dgn nasib Indonesia, saya sangat mengecam keras tindakan negara2 yang mengklaim hak milik Indonesia. mari kita mempertahankan warisan budaya bangsa kita....

    Hidup Indonesia!!

    salam kenal semua... :)

    BalasHapus
  13. banyak produk kita yang dijual di luar negri, yang sebenernya harus lebih menjaga adalah pemereintah kita, bikin peraturan apa kek biar gak dipatenin ama orang laen....
    Bayangin aja, lagu angin mamiri aja diaku sama malaysia.... sedih yaaa

    BalasHapus
  14. hai o_chan
    salam kenal juga :)

    BalasHapus
  15. honey arumdapta7 Maret 2012 14.08

    bener banget tuh.. aku juga sebel banget sama negara-negara yang sok ngaku-ngaku kalo reog ponorogo, batik,lagu rasa sayange sampai-sampai jepit rambut aja ngaku-ngaku.. ayo kita bantu INDONESIA agar kebudayaannya ga di aku-akuin sama negara lain..!!!

    salam kenal semua :D

    BalasHapus