I WANT ANY PEARLS FOR MY BIRTHDAY
Now you can find pearls online or offline. One of the merchant is orientalpearls.net. They has their own peerls farm. Their farms Produce Premium Quality Pearls. It's sound good. do you have any comment?
LINKFROMBLOG.COM, NEW PAID TO REVIEW
I try to join one of paid to review program. I have joined others paid to review program before like sponsored review and blogsvertise, but only blogsvertise give me some jobs. yesterday I joined one of new paid to review program, linkfromblog.com. This is new but they give us some bonus if add some blog or make a review about them. I got $8 for my blog which I added yesterday.
Actually, I added this blog to sponsored review and blogsvertise, but poor me, this blog never get any jobs. I hope in this program I can get some jobs for this blog. if you want to get some money from paid review, you may love to join this program. You can join by click the banner and sign up to be blogger.
![]()
TARI PENDET PUNYA MALAYSIA?????

Baru aja 17 Agustusan Indonesia udah mesti perang lagi. Dan setelah REOG, BATIK, dan entah apalagi diklaim sekarang Malaysia mengklaim Tari PENDET!! Kurang ajar banget Secara ntu punya INDONESIA, BALI, tempat kelahiranku tercinta. Dari kecil aku sudah tahu Tari PENDET punya BALI, bahkan waktu SD, SMP, SMA, Tari PENDET itu tari wajib yang patut diketahui dan seenggaknya hafal gerakannya (inget banget karena harus remidi tari karena ga afal tarian nie). Jadi kalo dibilang masyarakat ga peduli ntu omong kosong. Di BALI kami masih sangat CARE dengan Tarian ini juga tarian lainnya!!!!!
Ok kita kutip berita sejenak dari republika sebelum ngomong lebih jauhAKARTA--Malaysia kembali mengklaim budaya Indonesia -- tarian pendet, Bali -- menjadi budaya mereka yang dicantumkan dalam iklan visit year mereka. Sebelumnya, mereka telah mengklaim angklung, reog Ponorogo, batik, Hombo Batu, dan Tari Folaya.
Budayawan, Radhar Panca Dahana, mengatakan pengklaiman budaya Indonesia oleh Malaysia untuk kesekian kalinya merupakan kesalahan pemerintah Indonesia sendiri. "Ya tidak apa-apa lah, kita juga suka mengambil budaya lain untuk untuk promosi," katanya kepada Republika, Rabu (19/8).
Ia menilai kecolongan budaya tersebut sebenarnya sebuah cermin atau refleksi. Ia menilai kita terluka dan malu, karena kita sadar sebagai pemilik kebudayaan itu kita tidak memperhatikannya. "Selama ini kebudayaan dipinggirkan, pemerintah dan masyarakat tak lagi peduli," ujarnya.
Sedangkan negara lain, seperti Malaysia, kata Radhar, membutuhkan ekstensi kebudayaan, karena kebudayaan adalah senjata terbaik untuk diplomasi internasional. Potensi bisnisnya bagus. "Malaysia tahu mereka kekurangan budaya, mereka pintar melihat kebudayaan negara tetangganya, dan mereka menghargai budaya untuk mencari keuntungan, sedangkan pemerintah kita tidak peduli. Hanya peduli pada olahraga dan program lainnya," katanya.
Untuk itu, kata Radhar, kedepannya agar Indonesia tidak kecolongan lagi, pemerintah harus perhatikan kebudayaan itu. "Kita majukan budaya kita supaya kita ada di depan, munculkan budaya kita dalam upacara-upacara, acara-acara, jangan lagu-lagu masa kini yang dinyanyikan oleh Presiden kita," tandasnya. she/kpo
Aku masih ga setuju kalo dibilang Tari PENDET ga diperdulikan. Karena kami di BALI yang hidup dari pariwisata, segala jenis tari menjadi nafas kami. kalo dilihat secara global mungkin itu benar.
Kalo soal bukti tari PENDET tu milik BALI sih ga perlu dikata, DUNIA juga tahu. Lihat wikipedia dulu yuck.
ini versi indonesiaTari Pendet pada awalnya merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura. Tarian ini melambangkan penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Pendet menjadi "ucapan selamat datang", meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius.
Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat ditarikan oleh semua orang, pemangkus pria dan wanita, kaum wanita dan gadis desa.
Tarian ini diajarkan sekedar dengan mengikuti gerakkan dan jarang dilakukan di banjar-banjar. Para gadis muda mengikuti gerakkan dari para wanita yang lebih senior yang mengerti tanggung jawab mereka dalam memberikan contoh yang baik.
Tari putri yang memiliki pola gerak yang lebih dinamis dari tari Rejang yang dibawakan secara berkelompok atau berpasangan, ditampilkan setelah tari Rejang di halaman pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih) dengan mengenakan pakaian upacara dan masing-masing penari membawa sangku, kendi, cawan dan perlengkapan sesajen lainnya.
sekarang versi bahasa InggrisPendet is a traditional Balinese dance, in which offerings are made to purify the temple or theater as a prelude to ceremonies or other dances. Pendet is typically performed by young girls, carrying bowls of flower petals, handfuls of which are cast into the air at various times in the dance. Pendet can be thought of as a dance of greeting, to welcome the audience and invite spirits to enjoy a performance.
Traditional Balinese dances are the oldest form of performing arts in Bali. Traditional dances can be divided into two types, sacred dance called Wali and entertainment dance called Bebalihan. Wali (sacred dance) is usually performed in some ritual ceremonies only because it has strong magical powers and only can be performed by specific dancers. Bebalihan are usually performed in social events. In addition to entertain, Bebalihan also has other purposes such as: welcoming guests, celebration of harvests, or gathering crowds. Bebalihan has more variations than Wali.
Pendet is the presentation of an offering in the form of a ritual dance. Unlike the exhibition dances that demand arduous training, Pendet may be danced by anyone. It is taught simply by imitation.
Younger girls follow the movements of the elder women, who recognize their responsibility in setting a good example. Proficiency comes with age. As a religious dance, Pendet is usually performed during temple ceremonies.
All dancers carry in their right hand a small offering of incense, cakes, water vessels, or flower formations. With these they dance from shrine to shrine within the temple. Pendet may be performed intermittently throughout the day and late into the night during temple feasts.
The original Pendet dance is performed by 4-5 young girls (before their puberty) in temple yards. Pendet dancers bring flowers in small Bokor (silver bowls for keeping flowers in a ceremony). They spread the flowers around the temple. This dance is a symbol of welcoming God in some ritual ceremonies in Bali. Pendet actually has simple dance movements. These movements are the basic dance movements of Balinese dance. Pendet has undergone later development with variations and now is not only performed in ritual ceremonies but also in some social events. Pendet since has been known as a welcoming dance.
JADI MASIHKAH MEREKA MENGKLAIM ITU PUNYANYA???
TAMAN YANG MENANTI
Helaan angin menyapu embun di dedaunan. Matahari masih malu-malu keluar dari ufuk timur yang kemerahan. Sebuah cerita harusnya sudah bangun dari tidur. namun hari ini dia tidak muncul. Juga si pembawa cerita. Dia tak terlihat ribanya.
Lalu aku bertanya pada waktu yang telah pergi. mungkin terlihat olehnya kenapa si pembawa cerita tak kembali ke taman ini. Tapi waktu tak berbicara., hanya memberikanku pada malam sebelumnya. kala itu embun masih di udara. Bintang masih mengedip nakal di balik kegelapan awan.
Si pembawa cerita terdiam di suatu ruang. Seorang wanita memberinya cerita akan gelapnya dunia di seberang sana. Wanita itu tak peduli gadis di depannya tak bergeming dan hanya menatap langit. Namun di akhir cerita akhirnya dia tersadar kalau ceritanya sia-sia.
"Kau hanya wanita, cukup belajar menjadi ibu dan istri maka hidupmu akan berguna. Tidak perlu sampai pergi jauh hanya untuk belajar. Apalagi yang perlu kau pelajari?" kata wanita itu di ujung kesabarannya.
"Itu cukup untukmu, tapi tidak untukkmu. Di luar sana banyak hal baru yang bisa aku pelajari. Aku bisa melihat langit yang lain. Tidak hanya langit di sini."
"Kau tidak akan menemukan apa-apa selain kesia-siaan. Kau baru tersadar nanti ketika menjadi istri. Kau tidak akan bisa berbuat apa-apa dan baru sadar impianmu gila. Pergilah bersolek agar mendapat pria terhormat. hidupmu akan berharga."
"Hidupku tidak akan berharga kalau aku masih terkurung di sini." kata gadis terakhir kali. Si wanita telah merah padam mukanya, dipukul akan kerasnya hati gadis di depannya.
Wanita itu pergi. Ia meninggalkan gadis itu di tengah kamar terkunci. "Dia harusnya sadar kodrat wanita." pikir wanita itu di kepalanya. Dikiranya hanya dia yang memiliki kunci ruang itu. Tanpa ia tahu, gadis itu punya kunci yang selalu ia bawa kemana saja, kecerdasan. Wanita itu telah salah, mengira kamar itu mampu mengurung gadis itu. Saat pagi menjemput, dia baru tahu tak satupun ruang di rumah itu yang mampu menghalangi gadis itu pergi.
***
Taman belum terbangun, embun belum turun. Tapi gadis itu melangkah ke situ menjejakkan cerita terakhirnya. Angin dingin memeluknya. Bintang menatapnya pergi. bahkan sampai badannya menghilang di ujung jalan seorang diri.
Kata orang, ia pergi ke seberang lautan mencari ilmu. Sebagian mencercanya karena berbuat gila. Sebagian lagi menghabiskan waktu dengan bercerita kalau di sana ia menemukan malapetaka. Sisanya tak berkata apa-apa, hanya melanjutkan pekerjaannya yang biasa. Lalu di ujung desa, taman tetap menanti ia kunjungi. Di sudutnya, ayunan yang biasa ia duduki berayun pelan bersama angin. Di rumah terakhir ia berdiam, si wanita berhenti mencaci. Mungkin baru terasa olehnya sebuah sepi.
Beberapa tahun cukup untuk menghapus kenangan orang-orang akan dirinya. Ayunan sekarang berganti teman dengan lumut. Pun bunga-bunga dan semak yang kini merimbun. Kini semua berubah menjadi lebat. Di rumah dekat tempatnya Si wanita duduk nelangsa. Meratap akan hilang putrinya.
Tiba-tiba suara langkah kaki mengusik telinga. Dia membalik badan. Taman kembali bernafas, angin berhembus lebih kencang, di balik semak rerumputan melangkah seorang putri. Senyum itu mengembang bersama kebanggaan. Dia melangkah semakin dekat.
"Aku temukan semua yang aku inginkan. Termasuk semua yang paling megah dan paling jelata. Tapi Aku kembali, karena aku rindu tempat ini."
"Kan sudah kubilang, tak ada gunanya semua itu, toh akan pulang."
"Sebaliknya." gadis itu menggeleng. "Aku mendapat banyak hal. Aku banyak belajar. Kalau aku mau aku bisa mendapat segalanya di tempat jauh itu. Aku ada di sini untuk mengubah tempat ini agar lebih baik."cerpenku yang paling aneh...
RENUNGAN : DI DALAM BADAN YANG MENYUSAHKAN
Melihat mata sendiri tanpa bantuan refleksi, apakah pencarianku akan seperti itu ataukah hanya perasaanku untuk saat ini saja?
Pantas saja dulu waktu lahir aku menangis. Betapa sakitnya harus masuk ke dalam sesuatu yang liar dan menyusahkan ini. Aku bahkan tak bisa mengendalikan hati dan otakku sendiri. Gampang sekali mereka berkehendak. Tak tahukah mereka siapa bosnya???
Aku masih terkungkung, kucoba menjerat sendiri semua yang di sini, terutama hati dan pikiran. Betapa menyebalkan saat kuketahui hati sudah jatuh cinta pada orang yang belum kutahu biografinya. Lebih parah saat pikiranku berlayar kemana-mana padahal aku perlu dia di sini saat ini juga! Dan semua itu mereka lakukan tanpa izin dariku!
Aku benar2 marah!
kau tahu, hatipun marah padaku,
"kenapa kau begini menyusahkan???"
lalu aku tanya
"lalu aku mesti gimana?"
dia diam,,
mungkin pertanyaan itu sekarang menderanya... Dia sendiri juga tidak tahu apa yang ia pikirkan.
Lalu pikiran mulai bicara tentang logika. Mulai sok bijak setelah aku mulai gila.
apa yang ia tahu adalah :
*aku adalah kumpulan atom-atom yang bekerjasama secara fungsional
*aku adalah kumpulan sel yang terorganisir
*aku adalah hasil bentukan panca maha butha dengan atma di dalamnya
*aku adalah makhluk sosial sekaligus individual
*aku adalah ciptaan Tuhan
Ketika ada yang tidak beres ada salah satu fungsi atau bagian yang terganggu.
Yang benar saja! masa cuma segitu??? Rasanya seperti produk pabrik saja.
Aku mulai kelelahan berdebat dengan hati juga pikiran. Sudah hampir dua puluh tahun tapi aku sama sekali belum mengenal mereka apalagi mengendalikan mereka. Aku mulai merenung sendirian.
Untuk apa semua ini? Ketika aku sendiri tak mampu kendalikan diriku. Aku seperti tak mengenal hatiku, Tak tahu pikiranku, dan badan ini serasa bergerak tanpa inginku. Bahkan jika ada yang bertanya siapa yang menulis ini, akupun tak tahu.
HARAPAN DI ATAS BUKIT (GREEN CAMP ANAK ALAM) 1
Sejak kecil aku bukanlah pecinta outdoor. Tak pernah terbayang aku harus terjun dalam kegiatan yang berbau alam dan petualangan. Namun hari itu berbeda, aku berada dalam rombongan Komunitas Anak Alam yang mengikuti Green Camp.
Hari sabtu itu kami pergi menuju desa Songan dan Blandingan. Rencana awalnya sih berangkat dari Ubud jam delapan pagi, sayangnya karena beberapa alasan akhirnya perjalanan tidak mengikuti jadwal sebelumnya. Kami baru berangkat saat hari sudah agak siang sehingga di Songan kami harus menghabiskan sarapan dan makan siang hampir bersamaan. Benar-benar orang Indonesia sejati!
Tempat dimana kami menghabiskan hari pertama adalah di desa Blandingan. Desa yang cukup tinggi keberadaannya. Kami menjangkaunya dengan mobil pick up yang juga penuh dengan barang-barang sumbangan. Tapi meskipun dengan mobil yang sudah berteman dengan tanjakan ini, perjalanan ke desa Blandingan cukup membuat jantungku tertekan. Tepat di tikungan sekaligus tanjakan tajam mobil itu tiba-tiba berhenti, padahal kami sedang asik berpose untuk foto-foto narsis kami di tempat itu. Sebagian teman-teman sudah berteriak, aku sendiri langsung memegang erat-erat apapun yang bisa kugapai agar tidak terjatuh. Bayangan kalau mobil itu akan berjalan mundur (alias menurun tajam) langsung muncul di kepalaku. Saat itu jantungkupun kompak dengan teman-teman, berteriak sekencangnya.
Untung saja mobil itu hanya berhenti, Bli Pande langsung mengisyaratkan agar semua turun. Akulah yang turun pertama kali untuk menyelamatkan diri. Tepat saat kakiku menyentuh tanah aku merasa nyawaku kembali ke tempatnya. Meski setelah itu harus berjalan kaki sampai di jalan yang agak landai, aku merasa cukup senang karena selamat. hehe...
Sesampainya di Bladingan aku agak dikejutkan dengan keadaan desa itu. Rumah-rumah mereka masih sederhana, terbuat dari kayu dan beralaskan tanah. Anak-anaknyapun sederhana saja, tanpa peduli ingus yang masih menempel di wajah serta tak peduli juga pada pakaian kumal yang mereka kenakan. Debu seakan berkuasa, udara di situ membuatku kurang nyaman. Untung saja Mbak Santi membawa masker lebih sehingga aku bisa sedikit mempertahankan diri.
Meskipun terlambat, hampir semua acara dapat terlaksana, pembagian sumbangan, permainan dengan anak-anak, noton film Laskar Pelangi, dan lainnya. Di luar itu semua, kami memberikan PR untuk anak-anak Blandingan agar menulis harapan mereka di selembar kertas. Banyak harapan yang tertampung, tapi satu harapan yang paling kuingat.Aku Ingin pergi ke Amricka
Begitu isinya. Salah satu dari harapan-harapan besar anak-anak di desa terpencil. Di atas Bukit yang bahkan perlu menempuh jarak beberapa kilometer untuk mendapatkan air itu terdapat harapan seseorang yang ingin menjelajah dunia. Sementara di luar sana, di tempat yang lebih baik, orang-orang menyalahkan keadaan atas kegagalan mereka. Aku bersyukur di sini ada anak yang masih mau bermimpi.bersambung..
MATAHARI
Aku memandang matahari hari ini. Tak satupun geraknya menghindar dariku, tak bergeming, meski kutahu ia sesungguhnya hanya menjauh sedikit demi sedikit. Tak satupun yang mengusiknya. Akupun ta mampu dan tak ingin berbuat sebodoh itu.
Masih tersisa kenangan tentang hujan, yang membasahi seseorang di depan wajahku. Saat itu kucari-cari matahari, namun ia tak jua menengokku, bahkan hingga hujan pergi. Dia yang pergi, turut serta membawa matahari bersamanya.
Sekarang hujan berhenti, matahari sudah kembali. Namun dia, yang membiarkan hujan basahi dirinya, tak pernah kembali. Dan aku hanya bisa menunggu matahari yang kan terbit lagi esok pagi
AWARD DAN BLOG PUISI RENUNGAN
Yang pertama kita bahas soal award dulu. Berhubung O'chan mulai menerima award, O'chan mau mengatur posting award. Untuk setiap award yang ditujukan ke sini akan O'chan tulis di blog O'chan yang lain, Not Important Diary. Kenapa? Itu karena ntu blog dikhususkan buat bahan postingan campur2. Selain itu biar blog itu lebih banyak isi posting dan sering diupdate (ga bermaksud menelantarkan blog ini lho!!!). Mungkin posting awardnya bakal berbahasa inggris (sesuai kemampuan yang masih ancur) atau campuran (Inggris dan translate ke Indo).
Yang kedua, kita bahas blog O'chan yang laen, yaitu Puisi Renungan. Dalam waktu dekat ini blog itu akan dihapus. O'chan kayanya ga bakal nulis puisi di blog lagi dengan beberapa alasan tertentu yang tidak perlu disebutkan di sini. Proses penghapusan mungkin akan berjalan beberapa hari. Pokoknya secepat O'chan selesai back up datanya. Ntu bukan karena aq ga suka Puisi ya... Beberapa puisi O'chan mungkin akan O'chan posting di Komunitas Sastra Air Putih aja. Itupun ga akan banyak.
Salam.. sorry kalo beritanya bukan berita baik.
